BAHAGIA DAN BANGGAKU MENJADI GURU






Pekerjaan guru sangatlah membahagiakan dan membanggakan. Ini menurut pendapat dan keyakinanku,  karena tidak semua guru mencintai dan menikmati profesinya. Beragam alasan yang menyebabkan beberapa diantara guru sering meninggalkan kebersamaan waktu pembelajaran dengan siswa yang memiliki beragam karakter dan tingkah laku yang meninggalkan banyak cerita dan kenangan baik itu yang lucu, menyebalkan, menyedihkan ataupun menghebohkan.

Guru jaman milineal dituntut memiliki banyak keterampilan dan keilmuan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”

A. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

B. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

C. Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.

D. Kompetensi Sosial
Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.


Amanah Undang-Undang terhadap profesi guru dan dosen sangat luaar biasa. Seakan guru dan dosen adalah makhluk yang sempurna yang tidak boleh salah. Hal ini dikarenakan ditangan merekalah para generasi bangsa dapat terbentuk menjadi manusia yang berkualitas baik secara keilmuan, akhlak dan keimanan. Karena suatu negara yang kuat haruslah memiliki rakyak dan pemimpin yang kuat baik secara keilmuan, jiwa, raga dan keimanan.

Alhamdulillah bangsa Indonesia memiliki Ki Hajar Dewantara dimana namanya sebelum genap berumur 40 tahun bernama Soewardi sangat perduli terhadap pendidikan di Indonesia. Alasan mengganti nama karena tidak mau menggunakan nama kebangsawanannya di depan muridnya. Hal ini dilakukan agar bisa semakin mendekatkan dirinya kepada muridnya baik secara fisik maupun kejiwaan. Sungguh sifat ketawadu'an yang luar biasa nyata dimiliki bagi seseorang berilmu tinggi namun menghujam sampai ke hati dan direalisasikan dalam amalan kehidupan sehari-hari.

Dalam menjalankan sistem pendidikan Ki Hajar Dewantara menggunakan semboyan jawa yang kini terkenal di seluruh Indonesia bahkan mendunia, yaitu 'Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani'. Semboyan ini bisa diartikan guru di depan memberikan contoh atau sebagai panutan, di tengah membangun kemauan atau niat, dan di belakang memberikan dorongan atau semangat.

Sunggguh sangat mulia profesi guru jika dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Sadar akan terus belajar dan mengajarkan karena menyiapkan muridnya untuk daapat hidup di jamannya serta sabar dalam membimbing muridnya untuk mau dan berani mencoba dalam setiap tantangan permasalahan hidup melalui proses pendidikan dan pembelajaran. 

Terimakasih guruku, ku akan melanjutkan estafet perjuangan dalam mendidik anak bangsa dengan segenap cita, rasa dan karya dalam keimanan dan peradaban menuju kehidupan yang lebih baik dalam kehidupan dunia terlebih kehidupan yang abadi di akhirat nanti.

Related

pembelajaran 3556827748177898339

Post a Comment

emo-but-icon

Follow us !

Blogger news

Trending

item